Tak Ada Bayangan Matahari Di UINSA Surabaya

observasi matahari dihalaman kampus UINSA Surabaya
11 Oktober ini terdapat fenomena Surabaya Tanpa Bayangan.
Surabaya tanpa bayangan itu apa sih? Mengapa bisa terjadi? Lalu, apa yang menarik dari fenomena ini? Penasaran kan, yuk sama-sama kita simak penjelasan singkat berikut:
Kata tanpa bayangan di sini bukan berarti Tak ada bayangan sama sekali atau bayangan yang tiba-tiba menghilang begitu saja bagaikan seseorang yang mengalami LDR (Long Distance Relationship) eaaaakkk :v yang dimaksud tanpa bayangan adalah ketika kita meletakkan suatu benda yang tegak lurus maka bayangan benda tersebut posisinya tepat di bawah benda tersebut. Paham kan? Jika tidak paham bisa jadi anda teringat dengan status LDR anda atau mungkin teringat dengan bayangan mantan anda :v
Suatu daerah dapat dikatakan tanpa bayangan adalah ketika nilai deklinasi Matahari sama besar dengan nilai lintang daerah tersebut kita ambil contoh daerah Surabaya, Surabaya memiliki nilai lintang -7°14′ sedangkan pergerakan semu matahari yang berkisar antara -23°5′ sampai 23°5′ saat itu tepat berada pada deklinasi yang sama/sangat mendekati dengan nilai lintang Surabaya, sederhananya wilayah Surabaya akan mengalami hari tanpa bayangan ketika matahari tepat berada di atas Surabaya. Kapan matahari dikatakan tepat berada di daerah Surabaya? Hal itu akan terjadi ketika matahari berada pada titik kulminasi atau beberapa menit sebelum datangnya waktu salat duhur. Oleh karena faktor itulah mengapa suatu daerah dapat dikatakan tanpa bayangan
Setelah cerita panjang kali pendek rasanya kurang lengkap jika belum membahas apa yang menarik dari fenomena ini. Berikut adalah hal yang membuat penulis merasa terkesima dengan adanya fenomena ini:
1.Daerah luar Surabaya akan dapat mengetahui posisi Surabaya secara tepat, hal ini dikarenakan semua arah berlawanan dari bayangan yang ada di seluruh dunia akan mengarah tepat ke Surabaya
2.Dapat menentukan waktu salat duhur dengan tepat, hal ini dikarenakan +- 2 menit setelah kulminasi maka telah masuk waktu duhur
3.Membuktikan bahwa bumi bulat
4.Meruntuhkan paham materialis sekaligus untuk menambah keimanan.
Materialisme adalah suatu paham, aliran yang menomorsatukan akal sehingga menolak keberadaan tuhan, yang kemudian paham ini didukung oleh manusia kera yang nyatanya manusia kera adalah sebuah kebohongan yang sangat besar yang memanipulasi segala bukti berupa fosil dengan tujuan supaya masyarakat luas mengetahui bahwa tuhan itu tidak ada dan penciptaan itu tak pernah terjadi karena semua hal terjadi karena faktor kebetulan. Sebenarnya paham ini telah runtuh sejak ditemukannya penemuan mengenai DNA yang ada dalam setiap makhluk hidup namun peristiwa ini juga sudah cukup menambah bukti bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan, karena peristiwa ini bisa terjadi bukan karena sebuah kebetulan belaka, peristiwa hari tanpa bayangan ini dapat dihitung kapan akan terjadi, dan hal ini menunjukkan bahwa bumi mengelilingi matahari dengan tetap dan ajeg, yang membuktikan bahwa semua hal di dunia ini tunduk pada satu komando yakni komando dari Tuhan yang Mahaa Esa (Allah SWT). Bayangkan saja ketika bumi tidak tetap dan tidak ajeg dalam mengelilingi matahari maka manusia akan kesulitan dalam menentukan waktu dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih ketika berhubungan dengan penentuan waktu ibadah. Hal ini pun dapat menjadi bahan renungan untuk manusia, ketika bumi dan benda-benda langit lainnya sangat menaati perintah tuhan mengapa manusia sangat sering mengabaikannya?
Sehingga, dapat dikatakan Astronomi adalah salah satu ilmu yang membantu kita untuk memahami kebesaran Allah SWT yang menjadikan manusia rendah diri

peserta diskusi Astronomi bersama SAC dan dosen pembimbing menjelang observasi
peserta diskusi Astronomi bersama SAC dan dosen pembimbing menjelang observasi

Sementara itu mahasiwa-mahasiswi Ilmu Falak dari UIN Sunan Ampel Surabaya melakukan pengamatan sederhana.

Mereka berkolaborasi dengan Surabaya Astronomy Club (SAC) melakukan kegiatan ini dengan sangat baik, dengan 2 teleskop dan juga beberapa botol minuman sudah cukup untuk menggetarkan jagad UIN Sunan Ampel Surabaya, buktinya tak sedikit mahasiswa-mahasiswa yang tertarik untuk mendatangi event yang dikomandoi oleh mahasiswa Ilmu Falak ini. Pukul 10.27 WIB acara dimulai dengan mengintip matahari menggunakan teleskop, kemudian tepat pukul 11.15 WIB posisi matahari berada di titik kulminasi sehingga kegiatan tersebut benar-benar mencapai puncaknya. Dengan peralatan sederhana, mereka dapat membuktikan bahwa ketika pukul 11.15 WIB matahari tepat diatas mereka sehingga tak ada bayangan yang terbentuk.

benda yang berdiri tegak tidak memiliki bayangan
Saat kulminasi, sinar matahari jatuh tegak lurus sehingga tidak ada bayangan yang terbentuk.


Mahasiswa Ilmu Falak UINSA Surabaya bersama cak Saiful Arifin dan ning Galuh Purwasih dari SAC foto bersama selepas acara observasi.

Kegiatan semakin menarik ketika salah satu Lembaga Pers Mahasiswa milik UIN Sunan Ampel ikut meliput kegiatan mereka.

?


Reportase oleh Achmad Mu’tashim Billah.
Penulis adalah mahasiswa Ilmu Falak UINSA Surabaya yang sangat menggemari astronomi. Baginya astronomi dapat meneguhkan keyakinan akan kuasa Allah. segala sesuatu diciptakan secara seimbang, tidak lebih dan tidak kurang sehingga terjadilah keteraturan di Alam semesta ini.

Hammam N

Hammam N

Surabaya Astronomy Club

More Posts

Follow Me:
FacebookYouTube