SMP IT Alkahfi, Pelopor Ekskul Astronomi Di Kota Delta

“Hampir semua sekolahan di indonesia memiliki mikroskop, tapi hampir tak ada sekolahan di indonesia yang memiliki teleskop”. Jika bakteri, mikroba, sel,proses fotosintesis dianggap penting untuk dipelajari di bangku sekolah,mengapalah kawah bulan, badai matahari ,ancaman bencana meteor seakan terabaikan untuk dipelajari dan hanya menjadi bagian fiksi film yang menakutkan tanpa penjelasan ilmiah yang benar. Apakah pendidikan negeri ini memang menganggap ilmu astronomi sebagai ilmu yang tidak terlalu penting ,kurang berguna, dan tak berdampak langsung pada kehidupan sepertihalnya ilmu bahasa,matematika, ekonomi,dsb. Atau kah karena kita sudah sedemikian tertinggal nya hingga terlalu berat dan mustahil untuk mengejar negara lain. Ataukah ilmu astronomi dianggap sebagai ilmu yang terlampau mahal untuk dihadirkan di bangku sekolah?

Teringat sebuah cerita dari anggota SAC yang saat ini duduk dibangku sekolah menengah atas. Ketika dia mencoba meminta gurunya untuk menyediakan teleskop di laboratorium sekolahnya,gurunya hanya menimpalinya bahwa harga teleskop itu mahal. Semahal apa?, tidak tahu,pokoknya mahal. Tentu dalam hal seperti ini pikiran kita lebih terkungkung dengan momok ‘tidak akan mampu’ daripada ‘bisa diusahakan’ untuk beli. Kendala yang lain mungkin juga keterbatasan pengetahuan tentang alat,jenis jenis teleskop, deskripsinya ,dan tentu saja pengoperasian nya. Mikroskop mudah dioperasikan karena guru pembimbing sudah familiar dan telah mempelajarinya disaat beliau masih juga dibangku sekolah.namun berbeda dengan teleskop,jangankan memegang,melihat secara langsung saja hampir tak pernah,apalagi pengalaman mengoperasikan.Teleskop bukan barang awam yang mudah kita jumpai di negeri ini.

Adalah sekolah SMP IT ALKAHFI,sebuah lembaga pendidikan yang didirikan pada tahun 2004 yang terletak di tepian kota Delta,di desa Singogalih kecamatan Tarik kabupaten Sidoarjo. Sebuah sekolahan yang ‘nekad’ menghadirkan teleskop dalam inventaris alat penunjang proses belajar mengajarnya. Hampir tanpa pengetahuan apapun tentang teleskop, sang kepala sekolah berani mengucurkan dananya untuk membeli teleskop. Tak tanggung-tanggung, 2 buah teleskop sekaligus beliau usung. Bukankah ini cukup untuk menunjukkan kepada sekolah-sekolah lain bahwasanya teleskop itu tidak mahal,terutama untuk sebuah lembaga pendidikan pada umumnya. Keawaman tentang teleskop tidak mematah arangkan semangat untuk memulai menggelorakan ilmu astronomi disekolah terpadu ini. Mencoba merangkai sendiri dan belajar mengoperasikannya bersama guru-guru yang lain, berbekal user guide yang disertakan dalam paket teleskop,semua terasa mudah dimengerti dan dipraktekkan, walaupun butuh pengalaman dan latihan untuk dapat mengoperasikannya dengan baik dan benar. Nah,disinilah masalah mulai muncul, para guru terkait merasa bahwa mengoperasikan teleskop benar-benar sulit, sekedar membidik bulan pun selalu gagal. Benarkah mengoperasikan teleskop harus memiliki keahlian? Sebegitu sulitnya kah mengoperasikan teleskop bagi orang awam? Atau sebenarnya hanya ada sedikit keliru dalam set up alat?

Atas informasi dari seorang wali murid yang bekerja di BMKG juanda yang kenal dengan SAC, Segeralah pihak sekolah mencoba menghubungi SAC. Betapa terkejut dan senangnya saya begitu ustad Halim dan ustad Dwi membukakan pintu ruang lab sekolahan tsb, 2 buah teleskop reflektor 114eq sudah berdiri gagah siap mengintip seluruh sudut semesta. Banyak hal kita bicarakan,mulai dari ketertarikan sekolah akan bidang astronomi,hingga agenda pendirian klub dan ekstrakurikuler astronomi. Dan akhirnya bertepatan dengan event astronomi internasional InOMN (International Observe Moon Night) pada 19 september 2015 menjadi hari pembukaan dan peresmian berdirinya ALKAHFI ASTRONOMY CLUB. Bukan sekedar acara ceremonial, malam itu pun kita langsung menggelar star party yang diikuti oleh seluruh siswa siswi dan segenap dewan guru ponpes SMP IT Alkahfi. Untuk menambah kemeriahan, SAC pun membawa beberapa teleskop diantaranya teleskop reflektor 130eq dan teleskop land&sky milik ning siti, cak agus yang membawa 3 buah binokuker serta 3 buah star pointer,dan saya melengkapinya dengan teleskop handmade dari pipa pvc.

siswi siswi santriwati SMP IT Alkahfi turut serta mengobservasi langit

Antusiasme siswa didik akan isi langit sangat luar biasa,bahkan ketika acara belum dibuka pun mereka sudah bergerombol berebut mengintip bulan dibalik eyepiece teleskop. Kesempatan menyambut acara pembukaan pun saya coba tanyakan sekelumit tentang fakta astronomi dimana ketika saya bertanya apakah ada yang pernah melihat planet, tak satupun siswa mengaku ada yang pernah melihat planet secara langsung. Inilah fakta yang sering kita dapati di lapangan ,kita mengira bahwa semua yang kita lihat berbinar dilangit adalah bintang semata,tanpa kita sadari sebagian dari ‘bintang’ tersebut sebenarnya adalah planet. Teleskop pun kita arahkan ke planet saturnus yang saat itu kebetulan berada dekat dengan bulan untuk membuktikannya. dengan mata telanjang saturnus sudah dapat terlihat cukup terang,namun harus menggunakan teleskop untuk bisa melihat cincinnya dengan jelas.

Acara begitu meriah,namun tekad pengajar selaku pembawa gudang ilmu tak berhenti disini. Pak Khoirul Amin selaku kepala sekolah SMP IT Alkahfi dalam sambutannya menyampaikan betapa lembaga pendidikan asuhannya ini sudah merencanakan banyak hal terkait astronomi diantaranya membuka ekstrakurikuler astronomi yang mungkin inilah ekstrakurikuler astronomi pertama yang ada di kabupaten Sidoarjo. Sekolah juga bercita2 untuk mengirimkan siswa didiknya kelak dapat mengikuti olimpiade astronomi. Dan lebih jauh dari itu,sekolah bahkan sudah memplanningkan pembangunan planetarium dan observatorium dalam kurun waktu 20-40 tahun, mungkin terbayang waktu yang cukup lama,namun ini cukup realistis dan saya yakin bakal terwujud.bayangkanlah, Diseluruh indonesia saja saat ini observatorium tak sampai jumlah jari yang kita miliki. Sad but true… Banyak hal yang harus kita kerjakan agar astronomi bisa dikenal dengan baik di negeri ini, bukan untuk mendominasi,namun setidaknya untuk pemerataan ilmu pengetahuan pelajar indonesia.

Hammam N

Hammam N

Ketua Surabaya Astronomy Club

More Posts

Follow Me:
Facebook