Reportase Event Seminar Himpunan Astronomi Indonesia (HAI) 2013

Laporan Event Seminar HAI 2013

Tanggal: 1-2 Oktober 2013

Tempat: Observatorium Bosscha, Lembang

Sekilas Tentang Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha merupakan satu-satunya tempat penelitian dan juga pengembangan ilmu astronomi di Indonesia. Observatorium ini terletak di Lembang, Bandung. Observatorium ini juga sering digunakan oleh mahasiswa ITB jurusan Astronomi untuk melakukan uji coba maupun penelitian astronomi. Selain itu, masyarakat umum pun tidak sedikit yang berkunjung dan menyaksikan berbagai objek langit di sana. Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Pemerintah. Dan selanjutnya, tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu Objek Vital nasional yang harus diamankan.

Ning Jasmi (perwakilan SAC)

Observatorium bosscha didirikan pada tahun 1923 oleh seorang kebangsaan Belanda bernama  Karel Albert Rudolf Bosscha. Observatorium ini selesai dibangun pada tahun 1928. Saat ini observatorium bosscha telah memiliki beberapa teleskop diantara nya adalah Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Schmidt Bima Sakti, Teleskop Refraktor Bamberg, Teleskop Cassegrain GOTO, Teleskop Refraktor Unitron, Teleskop Surya, Teleskop radio 2,3m.

Kegiatan:

  1. a.      Tanggal 1 Oktober 2013

Acara Seminar HAI 2013 ini dibuka oleh Dekan Institut Teknologi Bandung pada jam 9.00 di Gedung Kubah (gedung utama Observatorium Bosscha). Sebelumnya, direktur utama Bosscha Bapak Dr. Mahasena Putra memberikan sambutan dengan penuh emosional sehingga beliau tidak dapat membendung airmata. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa besar harapan beliau agar Bosscha menjadi observatorium yang lebih modern.

Bapak Dr. Taufik Hidayat mantan direktur Bosscha pun memberikan sambutan dalam suasana yang haru biru. Bahkan beberapa peserta seminar ikut menangis mendengar sambutan Pak Taufik, begitu beliau sering disapa. Kemudian acara dilanjutkan dengan penyerahan proposal kepada Dekan Institut Teknologi Bandung terkait penelitian di Gunung Timau yang menurut penelitian yang dilakukan oleh Pak Mahasena, Pak Taufik, dkk merupakan tempat yang dinyatakan layak menjadi lokasi observatorium astronomi. Dan pada akhir acara pembukaan diadakan pemotongan tumpeng diiringi lagu Padamu Negeri oleh semua hadirin.

Setelah acara pembukaan, semua presenter dan peserta seminar diajak tour keliling Bosscha melihat semua koleksi teleskop yang dimiliki Bosscha. Ada petugas disetiap Dorm teleskop yang menjelaskan fungsi dan cara kerja teleskop. Jelas saja tour ini memberikan banyak pengetahuan baru. Tour ini dilakukan hingga tiba waktu makan siang.

Setelah istirahat, sholat dan makan siang, acara dilanjutkan dengan acara seminar yang menampilkan beberapa presenter dengan judul presentasi yang bervariasi. Peserta dibagi dalam 2 ruangan seminar. Ruang A dan ruang B. Ruang A ditempatkan di Wisma Kerkhoven, sedangkan ruang B diruang multimedia. Saya sendiri memilih mengikuti seminar diruang A.

Diawali dengan presentasi Mas Muhammad Yusuf tentang “Pengembangan Teleskop Robotik di Observatorium Bosscha”. Dilanjutkan presentasi Mas Evan I. Akbar tentang “Status Teleskop Bima Sakti di Observatorium Bosscha”. Dalam presentasinya, Mas Evan mengatakan bahwa Teleskop Bima Sakti ini merupakan hibah dari UNESCO pada tahun 1947. Namun kendala yang dimiliki adalah plat fotografi yang merupakan detektor tidak diproduksi lagi sejak tahung 1990-an yang membuat teleskop ini sempat berhenti beroperasi. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, kemudian ditemukan solusi agar teleskop ini kembali bisa digunakan, yaitu dengan menggunakan kamera CCD. Kemudian presentasi dilanjutkan oleh 6 presenter lainnya.

Ning Jasmi dan Pak Mutoha

Setelah istirahat sore, acara dilanjutkan kembali oleh 6 presenter termasuk salah satu nya adalah presentasi Cak Mutoha Arkanuddin selaku pembina Surabaya Astronomi Club (SAC) dengan judul “Teleskop Goto dan Sensor Digital sebagai Alat Bantu Rukyatul Hilal”. Dalam presentasinya Cak Mutoha coba menjelaskan bahwa sebenarnya alat bantu modern pun, dalam hal ini adalah Teleskop GOTO, dapat dimanfaatkan untuk melihat hilal.

Seminar hari pertama ini ditutup oleh presentasi Dessy Eprilya tentang “Sistem Pengendali Teleskop Menggunakan WiFi” yang merupakan project tugas akhir nya.

  1. b.      Tanggal 2 Oktober 2013

Pada hari kedua, seminar dimulai pada jam 8.30 WIB yang diawali dengan presentasi Bapak Hendro Setyanto yang coba mempresentasikan tentang astronomi dan eduwisata di Kampung Areng. Dilanjutkan dengan beberapa presentasi lainnya termasuk presentasi Ning Avivah Yamani tentang “Komunikasi Astronomi di Era Media Baru.” Menariknya dalam presentasi ini, Ning Vivi (nama panggilannya_red) menampilkan data statistik tentang grup facebook maupun twitter yang paling banyak diakses oleh pengguna media sosial ini. Surabaya Astronomi Club (SAC) termasuk salah satu yang sering dikunjungi. Merupakan suatu kebanggaan bagi saya pribadi bisa mewakili SAC dalam seminar HAI 2013 ini. Setidaknya SAC mulai “punya nama” dan “diperhitungkan” dalam hal penyebaran ilmu astronomi.

Saya berpikir, jika SAC telah merilis komik astronomi nantinya, pengakses SAC akan lebih meningkat. Menyebarkan ilmu astronomi melalui karya seni dan sastra mungkin bisa jadi lebih efektif dan mudah diterima masyarakat. Saat itu semangat merampungkan novel beraroma astronomi milik saya kembali membuncah. Timbul motivasi untuk menyelasaikan novel yang sedang saya garap dan bisa segera dilaunching (salah satu harapan besar saya selain segera menyelesaikan study dan menikah).

Penasehat SAC lainnya yaitu cak Muh. Ma’rufin Sudibyo juga ikul andil dalam seminar HAI 2013 ini dengan mempresentasikan 2 judul; Bulan Sabit di Cakrawala, Observasi Hilal di Indonesia pada 2007-2013 oleh Jejaring Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) dan Tapak Observatorium Mohr di Kelurahan Glodok Jawa Barat, Sebuah Studi Pendahuluan. Untuk lebih jelas, mungkin pengurus SAC dapat meminta cak Ma’rufin untuk memposting tentang Observatorium Mohr ini.

Sertifikat HAI 2013 Surabaya Astronomy Club

Acara selesai pada jam 12.30 siang dan dilanjutkan dengan pertemuan khusus pengurus Himpunan Astronomi Indonesia. Acara dilanjutkan kembali jam 17.00 sampai dengan jam 20.00 dengan agenda observasi langit malam. Hanya saja saya sendiri tidak ikut berpartisipasi dikarenakan ada tugas lain yang harus segera diselesaikan. Sebelum meninggalkan tempat acara, saya sempat mengambil dokumentasi (foto bersama) dengan para presenter seperti ning Vivi, cak Ma’rufin dan pak Sugeng selaku pendiri CASA (Club Astronomi Santri Assalaam).

Demikian yang dapat saya laporkan dari seminar 2 hari yang saya ikuti di Observatorium Bosscha. Terima kasih kepada Cak Ning yang sudi kiranya mempercayakan saya untuk ikut ambil bagian dalam memperkenalkan SAC kedunia luar dan memberi kesempatan kepada saya untuk mendapat ilmu astronomi melalui event ini. Semoga apa yang telah saya dapatkan bisa bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi semua masyarakat umumnya. Semoga allah SWT meridhoi kita semua. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin..

Billahitaufiq..

Reportase oleh : Ning Jasmi Bakri

Muchammad Thoyib As

Muchammad Thoyib As

Secretary, Filmmaker, Cinematography Instructor, Amateur Astronomer, Traveler, Poet, Jurist, Agrotechnologist

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookGoogle PlusFlickrYouTube