International NASE Astronomy Course hadir pertama kali di Indonesia

Adalah NASE, Network for Astronomy School Education, sebuah lembaga edukasi astronomi yang diinisiasi oleh IAU (International Astronomical Union). Melalui lembaga yang dipimpin oleh Prof. Rosa Maria Ros (Spanyol), mereka bertekad untuk menebar ilmu astronomi dan mengajarkan kepada guru-guru di seluruh dunia bagaimana cara mengajar astronomi dengan metode yang baru. NASE bekerjasama dengan para profesor dari berbagai universitas untuk menggelar kursus dasar terkait astronomi.

prof Tomita membimbing para peserta dalam pembuatan Roket sederhana

Dr. Chatief Kunjaya, Rektor Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur menyambut sangat baik program NASE tersebut. dalam sambutannya, beliau menyampaikan betapa pentingnya mencetak bibit-bibit saintis untuk kemajuan negeri ini. Sains di indonesia kurang berkembang dikarenakan kurang diminati oleh pelajar kita. Stigma yang kadung berkembang di masyarakat bahwa sains adalah ilmu yang sulit, berat, membosankan, dan jarang berkaitan langsung dengan kehidupan semakin memperburuk citra sains. Astronomi adalah salah satu solusi sebagai jembatan, sebagai katalis, karena ilmu astronomi banyak diminati dari anak-anak hingga dewasa. Beliau juga memaparkan betapa di Amerika saat ini juga kelimpungan karena menurunnya minat anak-anak Amerika untuk mendalami sains, sehingga saat ini banyak sekali posisi-posisi penting di bidang sains yang justru diisi orang-orang dari luar Amerika. Mereka kebanyakan adalah dari Asia.

Acara yang digelar pada tanggal 25-28 juli 2016 tersebut adalah yang ke 82 dari serangkaian kegiatan tour yang telah NASE susun, menariknya ini adalah gelaran pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Acara 4 hari yang dirangkum dalam 32 jam tersebut begitu padat namun berhasil dikemas secara rapi dan mengasyikkan. Prof. Rosa M Ros tidak sendirian, beliau dibantu oleh Beatriz Garcia (Argentina) selaku Wakil Presiden NASE dan Prof. Tomita Akihiko (Jepang) yang juga perwakilan untuk wilayah Asia. Belum cukup? panitia pun turut mengerahkan pendidik-pendidik profesional dalam negeri diantaranya Cak Yudhiakto Pramudya, PhD, tak ketinggalan pula sang Rektor Universitas Ma Chung sendiri, Dr. Chatief Kunjaya yang biasa disapa Pak Kun, seerang rektor yang dikenal low profile, tak canggung bergaul dengan siapapun, dan selalu menemani suksesnya acara.

c
Sejatinya acara pelatihan astronomi internasional tersebut ditujukan untuk dosen dan guru-guru fisika, matematika, serta geografi. Namun melihat semakin pesatnya komunitas- komunitas astronomi di indonesia, Pak Kun pun mencoba membuka pintu bagi komunitas astronomi untuk bergabung. Diantaranya yakni komunitas astronomi MAC (Malang Astronomy Club), SAC (Surabaya Astronomy Club), dan Ma Chung Astronomy club.

 

menelisik hubungan pembangunan candi dengan fenomena astronomi masa silam

Berbagai kegiatan yang digelar adalah materi-materi astronomi dari tata surya, eksoplanet, spektroskopi, fotometri, magnitudo bintang, evolusi bintang, hingga kosmologi. Tak hanya itu, dengan mengusung slogan dari Confusius; “i hear and i forget, i see and i learn,  i do and i understand”, NASE pun memberikan workshop yang mewajibkan pesertanya untuk memperaktikkan teori secara sederhana dan mendasar dengan melakukan sendiri percobaan fisika matematika yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.

 

z

simulasi tumbukan benda angkasa yang digambarkan dengan bahan kue yang di dijatuhkan dari ketinggian tertentu.

a

cacing

cacing

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebook