Edisi Ramadhan : Cahaya Nan Lamban

Saya mengintip ‘matahari’ pagi ini. Sejatinya adalah sedang mengamati jejak matahari dan bukan matahari sebenarnya. Matahari sebenarnya sudah berlalu 8 menit lalu. Yang sampai kepada kita dan sedang kita tatap sekarang bukanlah matahari ‘live’ dan ‘terupdate’ hanya jejaknya saja, bekas jalannya.

Mengapa demikian?

Kita dapat melihat suatu benda karena ada cahaya yang merambat dari benda tersebut ke mata. Cahaya memiliki kecepatan 300.000 km/detik. Jarak matahari ke bumi kurang lebih 150 juta km. Sehingga waktu tempuh cahaya matahari sampai ke bumi adalah 150.000.000 km dibagi 300.000 km/detik sama dengan 500 detik. Jika dikonversi ke dalam menit hasilnya 8 menit 20 detik. Itulah waktu tempuh cahaya matahari hingga ke bumi (mata kita).

Jadi yang sedang kita saksikan sekarang adalah masa lalu matahari. Keren kan, bak seorang ‘cenayang’ ternyata kita dapat melihat masa lalu secara sains tanpa perlu menabur kembang tujuh rupa di bola kristal :-D

Lanjut, matahari adalah bintang terdekat dengan bumi. Di langit ada milyaran bintang. Bintang terdekat kedua setelah matahari adalah Proxima Century. Menurut perhitungan astronomi jarak ke bintang tersebut adalah 39.700.000.000.000 km atau sama dengan 4,2 tahun waktu tempuh cahaya.

Jadi, jika kita sekarang sedang melihat bintang tersebut, sejatinya sedang mengamati bintang 4,2 tahun yang lalu. Ada pula bintang berjarak puluhan, ratusan hingga milyaran tahun cahaya dari bumi. Subhanallah!

Kesimpulannya tidak ada satu benda langitpun yang dapat kita lihat secara live dan terupdate. Bahkan bulan pun adalah bulan 1 detik yang lalu. Kita hanya dapat mengamati jejaknya saja, bekas jalannya saja, orbitnya saja.

Tahukah kita?

Ternyata Alqur’an telah memberi petunjuk akan fenomena ini. Dalam QS. Waqiah ayat 75-76:

A’udzubillahi minassyaithonirrajim, Bismillahirrahmanirrahim

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76)

“Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang gemintang (75) Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui (76)”

Inilah sumpah yang ditujukan untuk memancing rasa ingin tahu manusia (lau ta’lamuuna). Dan sumpah tersebut sumpah atas tempat beredarnya bintang-bintang (uqsimu bimawaaqi’in nujuum) bukan sumpah atas bintang itu sendiri (uqsimu binnujuum). Karena manusia di bumi ini pada dasarnya tidak pernah mengamati bintang sebenarnya secara langsung kecuali hanya jejak jalan peredaran bintang saja. Dikarenakan mata kita hanya mampu melihat dengan adanya cahaya dan cahaya memiliki kecepatan rambat sehingga semakin jauh jarak benda tersebut semakin lamban pula sampai ke mata.

Nah kita sekarang sudah tahu kan? :-) ternyata Alquran itu ‘tanpo tinulis iso diwoco’ (tanpa ditulis tetapi bisa dibaca).

Alhamdulillah

Saiful Arifin

Saiful Arifin

Saya Gus Ipul oh maaf Cak Ipul, tinggal di Surabaya Timur. Menggeluti dunia SEO & Internet Marketing. Hobby baca, terbangan, niup seruling, main piano, ngintip teleskop. Suka bercanda tapi serius saat diajak mikir sampe kepala miring-miring :-)

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedInGoogle PlusYouTube