CETAR : CERITA ASTRONOMI BERSAMA PAK AR (Pendiri, pembina sekaligus Kepala observatorium CASA, Surakarta)

Pada mulanya pak Ar berharap komunitas astronomi di Solo-Surakarta lahir dari para mahasiswa dari universitas yg memang ahli dalam bidangnya. Namun pada kenyataannya tidak ada perkembangan, “Bahkan mahasiswa tidak bisa memanfaatkan event-event langit untuk meningkatkan dan memajukan astronomi. Akhirnya lahirlah CASA.” Tutur pak A.R. Sugeng Riyadi yang akrab disapa pakar fisika.

CASA didirikan pada tahun 2005, bermula dari hibah rubu’, beberapa peralatan pendukung pembelajaran fisika dan, kid astronomi salah satunya teleskop. Pertama kali yang mengajak untuk melakukan pengamatan bukan dari guru-guru fisika justru saat itu dari guru Aqidah yang mengajak mengamati hilal atau bulan muda. Lalu dibuatlah nama, logo dll secara mengalir. Tahun 2007 mulai membentuk blog CASA, mengadakan event-event astronomi seperti observasi publik, juga ikut memeriahkan event internasional seperti astroday dll. CASA sendiri mulai dikenal secara luas pada tahun 2011, lebih tepatnya pada saat momen gerhana, karna pada saat itu banyak sekali media-media masa yg meliput baik dari televisi maupun media cetak sehingga dikenal luas oleh masyarakat. Ada satu pesan penting dari pak Ar “Untuk mengenalkan komunitas ke kancah nasional atau internasional sebenarnya mudah : adakan kegiatan, difoto atau didokumentasikan, lalu di ekspos. Kuncinya itu.”

Pak Ar mengatakan bahwa saat ada event2 langit yang sifatnya jarang terjadi, sebenarnya yang menjadi bintang atau aktor utamanya adalah komunitas astronomi. Sebagai contoh saat event gerhana matahari total 2016 bulan maret lalu, banyak masyarakat yang ingin tahu dan sangat tertarik pada astronomi dan komunitas memiliki peran yang sangat viral.

Dalam perspektif islam sendiri, sebenarnya masalah terkait hilal, arah qiblat, waktu shalat, dll sudah disosialisasikan berpuluh-puluh tahun silam oleh DEPAG. Namun gaungnya mulai terasa dan dikenal oleh masyarakat luas justru oleh komunitas-komunitas ilmu falak. Sebenarnya antara komunitas astronomi dan ilmu falak tidak ada bedanya karena sama-sama mempelajari objek langit.

Lahirnya komunitas astronomi dan ilmu falak dipicu oleh kesadaran masyarakat akan rasa ingin tahu terhadap objek langit sehingga mempelajari ilmu-ilmunya adalah sebuah kebutuhan. Antara astronom profesional dan amatir sebenarnya juga tidak ada bedanya, karena sama-sama memiliki kontribusi masing2 terhadap astronomi.
Para astronom profesional memiliki dasar ilmu astronomi yg cukup kuat berupa informasi rinci terkait data objek langit, perhitungan, penelitian dll sehingga, sering kali bahasanya berat dan sulit untuk dimengerti, hadirnya astronom amatir yang terhimpun dalam suatu komunitas memberi kemudahan dalam menyampaikan dan mengenalkan astronomi kepada masyarakat umum secara ringan dan menyenangkan sehingga astronomi bisa diterima/ dikenal oleh semua kalangan.

Agar dapat memasyarakatkan astronomi ada 2 tips yang di sampaikan Pak AR yaitu “lihat masyarakat dan perhatikan moment atau event astronomi.” Jika masyarakat yang dituju adalah muslim, maka dekati dengan ilmu falak. Sedangkan untuk masyarakat umum harus melakukan uji coba dan sampaikan bahwa astronomi itu bermanfaat dan menyenangkan. “Yang terpenting jangan sodorkan rumus, nanti pada lari semua” imbuh pak AR dengan gayanya yang jenaka mencairkan suasana.

Lalu mengadakan event astronomi untuk masyarakat umum yang jadwalnya dapat di check melalui kalender astronomi agar masyarakat tertarik dengan astronomi dan mau bergabung dengan komunitas.

Selain Pak AR, acara ini juga diisi oleh cak Hammam ketua Surabaya Astronomy Club (salah satu komunitas astronomi terbesar yang ada di jawa timur). SAC berdiri pada tahun 2006, setahun lebih muda dari CASA. Pada saat itu SAC hanya baru sebatas nama di internet berupa postingan-postingan sederhana terkait astronomi dan benar-benar mulai aktif pada tahun 2011 yang ditandai dengan adanya pengamatan langit dan perkumpulan anggota. Setelah itu jika ada event langit, SAC juga mulai mengadakan pengamatan. Karena saat itu basic dari anggota SAC sendiri adalah orang-orang yang hanya sekedar tertarik atau berminat di astronomi saja. Bahkan karena tidak memiliki dasar astronomi yang kuat, SAC pernah mengadakan event yang tidak masuk akal. Dalam artian, melakukan pengamatan objek yang tidak dapat diamati karena saking semangatnya mengadakan event pengamatan, hanya memperhatikan tanggal, tanpa mengecek objek tersebut terbit dari arah mana, jam berapa, dari indonesia bisa diamati atau tidak. “Jadi saat itu ya kami duduk2 ngobrol sma sini soalnya bingung apa yg mau diamati, lah obyeknya aja tidak ada” Tutur cak hamam sambil tertawa mengingat sejarah menghidupkan SAC yg cukup kocak. Alhamdulillah saat ini anggota SAC sudah berkembang cukup pesat, tidak haya orang-orang yang bermodal hobi, tapi banyak juga yg berasal dari kaum akademisi dan profesional di bidang astronomi seperti mahasiswa, dosen, peneliti, dll. Anggota SAC juga tersebar di seluruh indonesia, beberapa ada yang mendirikan komunitas astronomi di kota asalnya.

Nurlatifah Kafilah
Edited by. adyn azzah